Powered by Blogger.
RABBONI ISA AL-MASIH TELAH MENYELAMATKAN SAYA.

RABBONI ISA AL-MASIH TELAH MENYELAMATKAN SAYA.

Dulu nama saya Dadang Murtala, berdarah Sunda asli, lahir di Bandung tanggal 14 Januarl 1951. Saya 9 bersaudara 5 perempuan, 4 laki-laki, saya paling kecil tapi paling berandal. Dalam tahun 1970 saya ke Banten. Berguru di pesantren untuk mendapatkan ilmu kekebalan tubuh dan menjinakkan hewan-hewan berbisa.

Pada akhir pelajaran saya diwajibkan membaca Al Qur'an dari permulaan, surat Al Fatihah, sarnpai dengan surat terakhlr, surat
An Nas, hanya dalam beberapa jam. Sesudah itu saya harus puasa tiga hari dan pada hari ketiga tidak boleh tidur sama sekali.Akhirnya saya harus mengucapkan mantra khusus sebanyak seribu kali, sesudah itu saya dinyatakan siap bertempur.

Rambut saya panjang, 110 cm, terpaksa saya biarkan memanjang, karena tidak ada gunting dan tidak ada pisau yang bisa digunakan untuk memotong rambut saya. Saya masuk dalam ruangan kaca yang sudah penuh dengan 400 ekor ular-ular berbisa, ular cobra, ular welang, ular tanah dan sebagainya, juga penuh dengan kalajengking yang besar-besar sebanyak 3000 ekor. Saya bergaul dengan hewan-hewan berbisa itu siang dan malam selama 100 hari. Sudah itu dalam aktrasi yang lain saya menyediakan jeruji sebanyak 100 buah.

Saya tusukan ke leher saya dari kanan tembus ke kiri. Penonton saya persilahkan menusukkan jeruji sepeda yang lain ke tubuh saya atau ke leher saya, boleh pilih sendiri. Sampai banyak jeruji menghiasi tubuh dan leher dan mulut saya. Setelah beberapa lama berlangsung atraksi ini, jari-jari sepeda saya cabut satu per satu, bekas-bekasnya saya sapu dengan tangan saya sambil mengucapkan mantra., dan tidak ada bekas, tidak ada darah menetes.
Pada tanggai 4 Agustus 1992 terjadilah peristiwa yang tidak saya sangka-sangka. Ular cobra kesayangan saya, yang pada setiap pertunjukan selalu melilit di leher saya dengan ekornya dan menari-nari dengan batang leher dan kepalanya dengan sangat lucu mengikuti irama musik, entah kena apa mendadak sontak memagut tangan kanan saya. dan seketika itu tangan saya membengkak dan saya jatuh pingsan.

Ketika saya siuman kembali, ternyata saya telah terbaring di ruang gawat darurat di rumah sakit Ranca Badak dengan infus di tangan kiri saya. Kata dokter saya kena nerotoksin. Selama 29 hari saya terbaring di ruang gawat darurat menghabiskan 47 labu cairan dan 13 labu darah. Kondisi badan saya sangat menurun, tinggal kulit yang melekat di tulang dan rambut
saya yang panjang di bawah pinggul saya. Berat badan saya menurun dari 59 kg menjadi 37 Kg. Keluarga saya kehabisan biaya, sedang kondisi saya terus menurun tidak ada harapan lagi, saya dimintakan untuk pulang saja oleh keluarga saya.

Setelah empat hari di rumah saya tidak sadarkan dirl. Saya dilarikan lagi ke rumah sakit. Saya mendengar percakapan orang
disekitar saya.Empat orang dokter sempat melihat tubuh saya. Semuanya mengatakan saya sudah tiada lagi. Visum kematian
sudah dibuat untuk penguburan saya. Keluarga saya sudah miengucapkan doa-doa orang mati di bawah ranjang saya. Tapi
seorang dokter di antara ke empat dokter yang tidak bersedia saya sebutkan namanya, melarang tubuh saya cepat-cepat di kubur, karena dia ingat percakapan saya dengan dia waktu saya dirawat di ruang gawat darurat, kalau saya mati jangan cepat-cepat dikubur. Dia berdoa dan tumpang tangan di atas kepala saya. Setelah saya mengalami tidak sadarkan diri selama dua hari satu malam itu, ada gerakan lagi pada jari-jari saya. ada pernafasan lagi. Dokter tersebut mengambil segelas plastik aqua dan di tetes-teteskan kedalam mulut saya. Saya dapat membuka mata dan telah sadar kembali. Tiga orang dokter lain ikut mendatangi saya dan mereka berempat berdoa dan tumpang tangan buat saya. Setelah tiga hari di rumah sakit saya dibawa pulang lagi oleh keluarga saya.

Selama di rumah saya merenungi hidup saya dan ingat pula atas pelayanan para dokter dan para juru rawat di rumah sakit serta ingat pula atas doa dokter tersebut. Setelah beberapa bulan di rumah, saya ingat pelajaran saya waktu belajar ilmu hitam, ilmu mantra dan ilmu tenung bahwa orang Kristen itu tidak mempan mantra dan tenung. Hati saya mendadak tergerak untuk bertemu dengan Pendeta. Dengan kondisi badan yang belum pulih, saya pergi ke Bandung langsung ke suatu Gereja yang besar di tepi jalan besar. Tetapi alangkah kecewa hati saya mereka yang ada di gereja itu tidak ada yang mau menerima kedatangan saya. Mungkin mereka menganggap saya ini kurang waras, tubuh saya kurus kering, rambut saya panjang seperti ekor kalajengking. Saya pulang ke rumah dengan rasa murung.

Beberapa hari kemudian saya pergi ke rumah salah seorang yang beragama Kristen. Saya ceritakan kekecewaan saya itu, dia
tanggap dan saya diajak ke Bandung, ke Gereja yang lain. Di sini saya dilayani. Saya mengikuti kebaktian tiap hari Minggu dan setelah tiga bulan saya dibaptis, yaitu pada tanggal 20 Juni 1993.

Sejak saya masuk gereja tidak ada lagi dalam pikiran saya untuk tampil dalam pertunjukan lagi seperti yang sudah-sudah. Bukan karena takut mati dipagut ular tapi takut akan Rabboni 'Isa. Dulu saya sahabat ular sekarang saya menjadi seteru ular dan berperang melawan ular.Dulu, ular sahabatku, sekarang Rabbi Isa Almasih Juruselamatku. Dulu, saya membenci orang Kristen tetapi orang Kristen tidak membenci saya. Dulu saya pernah membenci Yesus Kristus tetapi Yesus yaitu 'Isa tidak pernah membenci saya, bahkan hari ini Yesus telah melepaskan saya dari kuasa gelap, menyelamatkan saya dari kebinasaan.

Tetapi setan memang tidak pemah berhenti menggoda manusia.Pada suatu hari saya ditawari uang Rp 12.000.000,- untuk
pertunjukan selama satu bulan, dengan pertunjukan lima jam sehari. Nama dan gambar saya dimuat di surat kabar. Tetapi sekalipun keluarga saya hidup pas-pasan, saya tidak terpikat lagi atas tawaran Iblis tersebut.

Pada suatu hari Pendeta mengirim saya ke Jakarta untuk belajar dan berlatih di sekolah Al-Kitab. Senin sampai Jumat belajar di Jakarta, Sabtu dan Minggu di Bandung dan bertemu dengan keluarga dan handai tolan. Saya berbicara tentang keselamatan yang diajarkan oleh Sang Juruslamat sendiri yaitu AlMasih 'Isa.
Eh, banyak dari mereka yang tertarik, dan mereka minta dibaptis. Akhirnya istri saya, anak-anak saya, adik-adik ipar saya, mertua saya, teman-teman saya juga mereka yang tempat tinggalnya jauh dari rumah saya sampai 40 km dari rumah saya menerima baptisan kudus sebagal tanda pertobatan mereka, sebagai meterai mereka menjadi milik Sang Juruslamat Al-Masih 'Isa. Sampai kesaksian saya ini saya tulis, jumlah mereka itu semua sudah mencapai 87 orang. Puji Tuhan. Dan saat itu nama
saya yang mula-mula Dadang Murtala berubah menjadi Dadang Mathius.

Demikianiah kesaksian saya, saya tuliskan dengan harapan saya agar ikut menjadi penggerak dan penggairah hati anak-anak Tuhan untuk mau ikut melayani Dia. Bersaksi tentang Dia dan memberitakan kasihNya, penyelamatan orang berdosa seperti saya dulu yang pernah dikuasai setan, yang bakal binasa telah diselamatkan oleh Dia.

Sumber Kesaksian : Dadang Mathius

Tertanda,
Tio Rendika Yeremia Sitanggang
Sidney Mohede - Tinggikan DiriMu.

Sidney Mohede - Tinggikan DiriMu.





Lirik :
KU BERSYUKUR PADA-MU TUHAN
ATAS KASIH-MU
KU BERMAZMUR BAGI NAMA-MU YANG KUDUS
S’BAB ENGKAU KEBENARANKU
PADA-MU KU PERCAYA
BETAPA MULIANYA TUHANKU
KU RINDU MENYATAKAN
TINGGIKAN DIRI-MU MENGATASI LANGIT
KEBESARAN-MU TUHAN MENGATASI BUMI
TINGGIKAN DIRI-MU MENGATASI LANGIT
KEMULIAAN-MU TUHAN MENGATASI BUMI

Download lagunya disini
1. Via Upload : Sidney Mohede - Tinggikan DiriMu .
2. Via 4shared : Sidney Mohede - Tinggikan DiriMu .
3. Via Ziddu    : Sidney Mohede - Tinggikan DiriMu .

Nb: Jika anda memilih download dengan 4shared, dipastikan sebelum mendownload anda sudah memiliki akun 4shared, jika belum silahkan anda registasi terlebih dahulu. Jika ingin mudah, ada pilihan register and log in with , pilih yang log in with lalu pilihlah akun yang sudah anda miliki, misalkan facebook.

Tips Download
Gunakan Internet Download Manager (IDM) supaya lebih cepat. (Jika belum punya klik disini untuk mendownload)


Tertanda,
Tio Rendika Yeremia Sitanggang.
Franky Sihombing - Bapa Engkau Sungguh Baik.

Franky Sihombing - Bapa Engkau Sungguh Baik.


Lirik :

BAPA ENGKAU SUNGGUH BAIK
KASIH-MU MELIMPAH DI HIDUPKU
BAPA KU BERTERIMA KASIH
BERKAT-MU HARI INI
YANG KAU SEDIAKAN BAGIKU
KUNAIKKAN SYUKURKU
BUAT HARI YANG KAU B’RI
TAK HABIS-HABISNYA KASIH DAN RAHMAT-MU
S’LALU BARU DAN TAK PERNAH
TERLAMBAT PERTOLONGAN-MU
BESAR SETIA-MU DI S’PANJANG HIDUPKU

Download lagunya disini
1. Via Upload : Franky Sihombing - Bapa Engkau Sungguh Baik .
2. Via 4shared : Franky Sihombing - Bapa Engkau Sungguh Baik .
3. Via Ziddu    : Franky Sihombing - Bapa Engkau Sungguh Baik

Nb: Jika anda memilih download dengan 4shared, dipastikan sebelum mendownload anda sudah memiliki akun 4shared, jika belum silahkan anda registasi terlebih dahulu. Jika ingin mudah, ada pilihan register and log in with , pilih yang log in with lalu pilihlah akun yang sudah anda miliki, misalkan facebook.

Tips Download
Gunakan Internet Download Manager (IDM) supaya lebih cepat. (Jika belum punya klik disini untuk mendownload)


Tertanda,
Tio Rendika Yeremia Sitanggang.
True Worshippers - BersamaMu

True Worshippers - BersamaMu




ENGKAU ADA BERSAMAKU
DI TIAP MUSIM HIDUPKU
TAK PERNAH KAU BIARKAN ‘KU SENDIRI
KEKUATAN DI JIWAKU
ADALAH BERSAMA-MU
TAK PERNAH KURAGUKAN KASIH-MU

REFF :
BERSAMA-MU BAPA KULEWATI SEMUA
PERKENANAN-MU YANG TEGUHKAN HATIKU
ENGKAU YANG BERTINDAK MEMB’RI PERTOLONGAN
ANUGRAH-MU BESAR MELIMPAH BAGIKU

Download lagunya disini
1. Via Upload  : TW- BersamaMu .
2. Via 4shared : TW- BersamaMu .
3. Via Ziddu    : TW - BersamaMu

Nb: Jika anda memilih download dengan 4shared, dipastikan sebelum mendownload anda sudah memiliki akun 4shared, jika belum silahkan anda registasi terlebih dahulu. Jika ingin mudah, ada pilihan register and log in with , pilih yang log in with lalu pilihlah akun yang sudah anda miliki, misalkan facebook.

Tips Download
Gunakan Internet Download Manager (IDM) supaya lebih cepat. (Jika belum punya klik disini untuk mendownload)


Tertanda,
Tio Rendika Yeremia Sitanggang.

KESAKSIAN MUSLIM MASUK KRISTEN.

KESAKSIAN MUSLIM MASUK KRISTEN.

(Abdullah)Saya bertemu Isa Al Masih, oleh karena itu saya bertobat... "marilah kita murtad"
Foto: KESAKSIAN MUSLIM MASUK KRISTEN(Abdullah)Saya bertemu Isa Al Masih, oleh karena itu saya bertobat... "marlah kita murtad"

(bacalah dari awal sampai habis dengan hati perlahan agar saudara diberkati dengan kesaksian ini)

Semangat murtadin

Setelah hilir mudik selama 10 bulan di forum ini, membaca, belajar dan melihat-lihat argumen saudara-saudara sekalian saya merasa 
terpanggil untuk menceritakan bagaimana saya dahulu dan sekarang. Saya sebenarnya bingung hendak mulai dari mana tetapi saya merasa ada dorongan yang kuat dari dalam hati saya untuk mulai menceritakan bagaimana kehidupan saya dulu dan sekarang.

Usman Abdullah itu adalah trah keluarga, saya berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Kakek saya orang Makassar, nenek saya orang Bugis. Saya bersyukur ada di angkatan ini, angkatan tahun 80an sehingga memungkinkan saya mengerti internet. Bapak saya ****** usman menikah dengan mama saya (orang Minahasa), awalnya mereka menikah di gereja tetapi setelah saya dan adik saya (perempuan) lahir (saya dan adik saya hanya berjarak satu satu tahun) bapak saya meminta mama saya untuk masuk islam bila tidak maka mama saya akan diceraikan (saya mengetahui kemudian pada usia 16 tahun, saya mengetahui dari adik bapak saya). Mama saya dengan terpaksa masuk islam dan kemudian bercerai setelah adik saya (nomor 3) lahir. Mama saya bercerai karena bapak saya kedapatan ber 2 di kamar teman (sahabat) mama, kata bapak mereka sudah menikah secara siri. Kenyataan yang buruk buat saya yang waktu itu berumur 5 tahun. Pengadilan memutuskan saya dan 2 orang adik saya di asuh oleh mama saya tetapi bapak membawa kami pergi ke rumah nenek di kampung (Kab. Barru) sampai usia 8 tahun kami tinggal bersama-sama nenek sementara bapak kawin lagi bahkan kawin hingga punya 4 orang istri, mama juga menikah lagi dan tinggal bersama suaminya. 

Saya dan 2 orang adik saya di didik secara Islam, kami diajar sholat 5 waktu, kalau tidak sholat atau mengaji maka kami harus siap2 menghadapi rotan dari nenek. Kami dilarang untuk bergaul dengan keluarga dari mama karena mereka adalah orang kafir, mereka pasti masuk neraka (kata nenek), nenek yang mengasuh kami waktu itu, nenek adalah istri pertama kakek (kakek mempunyai 3 orang istri). 

Saya ingat bila adik saya (perempuan) tidak mau mengaji maka adik saya pasti akan di pukul rotan, di pukul hingga badannya ada bekas pukul dan berwarna biru. Saya sedih lihat adik saya, sedih juga karena saya bapak tidak pernah menengok kami. Sedih juga karena wajah saya dan adik saya mirip orang cina dan teman2 saya mengejek saya dengan mengatakan saya keturunan cina. Usia 9 tahun kami bertemu dengan mama dan keluarganya (saat itu kami ada di Makassar, berlebaran), kami menangis sejadi-jadinya... Adik saya menceritakan keadaan kami dan pengen tinggal sejenak dengan mama, mama minta supaya kami di ijinkan tinggal 2 hari bersama mama. Setelah perdebatan panjang kami diperbolehkan tinggal 2 hari dengan mama. Rasanya kami merdeka, lepas dan tidak mau kembali ke kampung. 2 hari terasa cepat berlalu, nenek datang menjemput kami namun beberapa saat sebelum nenek datang menjemput oma (mama-nya mama) datang dan mengajak nginap di rumahnya, kami senang sekali dan langsung mengiyakan. Jadi, libur lebaran itu kami tinggal di rumah mama dan oma kami. 

Pengalaman tinggal di rumah mama dan oma kami sangat menyenangkan, mama mengajarkan (khususnya ke adik2 saya) tentang mengasihi sesama, kata mama apa dan bagaimana pun kami mama tidak akan melupakan kami dan terus berdoa bagi kami. Mama bilang mau bawa kami tetapi bapak selalu menghalangi dan mengancam akan melaporkan ke polisi. Di rumah mama kami juga diberi kebebasan untuk sholat (begitupun di rumah oma), kami tidak pernah dilarang untuk sholat. Ada yang berbeda antara di rumah nenek dan di rumah oma, di rumah nenek kalo mau makan harus bilang dulu dan biasanya harus diambilkan (ditakar) oleh nenek, dirumah mama atau oma kami boleh makan sesuka kami yang penting kata oma makanannya di habiskan karena ada banyak orang yang membutuhkan makan jadi gak baik kalau makanan di buang2. Hal yang berbeda lainnya adalah pada malam hari di rumah oma ataupun mama pasti semua kumpul di meja makan, makan bersama namun sebelum mereka makan mereka berdoa (waktu di rumah mama yang pimpin doa adalah bapak tiri kami) bersama dan yang memimpin doa adalah opa. Karena saya tidak mengerti jadi saya hanya diam aja sementara opa memimpin dalam doa, didalam doa yang diucapkan opa itu doa menggunakan bahasa Indonesia yang saya juga bisa dengar beda dengan doa saya selama ini. Di dalam doa itu saya dengar nama saya juga di sebut, bukan hanya nama saya tetapi nama adik2 saya dan bahkan nama bapak saya juga di sebut. Saya merasa kagum dan takjub karena selama ini nenek mengajari kami untuk tidak perlu mendoakan mama dan keluarga besarnya karena mereka kafir dan pasti masuk neraka. 

Kami makan selayaknya keluarga, saya dan adik2 saya diberi tempat duduk persis di samping opa (masih ada 2 orang adik mama yang tinggal dengan oma dan opa waktu itu karena mereka blm menikah dan masih kuliah), hal berbeda bila kami makan malam di rumah nenek, biasanya setelah makanan diberi kami disuruh duduk di lantai atau disuruh makan di dapur. Pengalaman tinggal bersama mama dan oma membekas di hati kami, saat mama melepas kami kembali ke nenek mama bilang akan sering2 berkunjung ke kampung di Barru. Saat mama pergi kami menangis, kami mengangis supaya kami tidak ditinggal. 

Setelah mama pergi karena adik saya yg nomor 3 (usia 6 tahun) masih menangis nenek mengambil rotan dan memukul adik saya, adik saya yg perempuan juga menangis dan juga dipukuli supaya mereka berhenti menangis, saya sampai harus melindungi adik2 saya dari pukulan rotan itu. Kebetulan saat itu ada ustad dirumah (sedang berkunjung karena masih suasana lebaran) dan ustad itu mengatakan : "mungkin anak2 ini di baca2i supaya ingat terus ke mama-nya" jadi ustad itu mulai merapal bacaan dan dengan bacaaannya kami ditenangkan. Saya meminta adik saya diam, waktu itu kami tenang bukan karena bacaan tetapi karena takut dengan rotannya nenek. Di kamar (kebetulan kamar yang kami tempati berada di lantai 2) saya menenangkan adik2 saya. Adik saya yang nomor 2 (usianya 8 tahun waktu itu) terus merengek minta ketemu mama lagi. Entah kenapa kok dari dalam hati saya ada keinginan untuk kabur dari rumah itu. 

Saya kemudian menghapal kembali jalan untuk ke rumah mama tetapi sulit yang saya ingat malah jalan ke rumah oma (rumah nenek di jl. cendrawasih dkt stadion mattoangin sementara rumah oma di perumnas antang). Lalu saya mulai mengendap-endap ke dapur dan mencari tas plastik untuk memasukkan baju2 kami, saya mewanti-wanti adik2 saya untuk tidak tidur supaya kit bisa pergi tengah malam, kami berpura-pura tidur saat om A**** (yg punya rumah) menengok kami dan memastikan kami sudah tidur dan mematikan lampu kamar. Tepat pukul 11.30 malam saya lihat sekeliling dan gelap, saya bangunkan adik2 saya dan mengendap-endap keluar kamar. Kami menggunakan pohon mangga yang ada di samping balkon kamar turun ke halaman samping dan manjat pagar dan kemudian kami pergi tanpa sepeser pun uang tadinya kami di berikan uang oleh om edy (adiknya mama), oma dan juga mama tetapi uang itu di ambil oleh nenek sesaat setelah mama pergi. 

Saya menuntun adik2 saya dan juga membawa tas kresek isi pakaian kami. Kami menumpang mobil angkutan kota yg kebetulan lewat saya ingat saat itu kami berhenti di pasar sentral. Sampai di pasar sentral tengah malam saya hanya menuntun adik2 saya menuju ke lapangan karebosi saya ingat sekali jalannya karena itulah rute yang tadi kami lewati waktu mama mengantarkan kami kembali kerumah om A****, sebenarnya kami saya hanya mau cari tempat buat tidur dulu kasian adik2 saya yang mengantuk namun karena semangat mau kabur jadi mereka tetap terjaga. Belum sampai kami di lapangan karebosi tiba-tiba ada mobil berhenti (pick up), kami kaget karena kami kira itu mobil om A****, kami takut tertangkap dan di bawa pulang kembali tetapi ternyata 'orang itu' memakai baju panjang dan berambut panjang diurai keluar dan bertanya kami mau kemana tengah malam begini? Saya katakan mau ke antang lalu dia bilang nanti saya antar kalian, saya langsung mau karena waktu itu kami butuh tumpangan dan ga tau kenapa kok saya percaya saja pada orang itu. Di dalam mobil (kami duduk didepan samping 'orang itu') kami tidak banyak bicara, saya hanya bilang mau ke perumnas antang om, blok 7 (saya ingat karena dirumah oma ada tulisan nomor dan blok-nya dan saya hapal). 

Saya berusaha menahan kantuk supaya tidak tertidur tetapi saya ikut tertidur bersama adik2 saya. Ketika saya terbangun saya sudah ada persis didepan rumah oma. Om yang mengantar kami membangunkan saya dan karena kaget saya langsung bangunkan adik2 saya dan saya berterima kasih pada 'om' yang mengantar saya. 'Om' itu pergi begitu saja meninggalkan kami, karena senang sekali kami tiba di rumah oma saya sudah tidak memperhatikan om yang tadi mengantarkan kami. Om Edy yang bukakan kami pintu dan terkejut melihat kami, oma dan opa juga kaget melihat kami. Saya tahu dalam pikiran mereka mungkin akan mengembalikan kami ke nenek, tetapi tidak lama kemudian oma bilang 'sekarang yg penting bagaimana mereka tidur dulu, soal besok biar nanti kita hadapi' kami akhirnya kembali bermalam di rumah oma. Itulah pengalaman saya pergi dari rumah nenek ke rumah oma.

Singkat cerita, nenek menyalahkan mama dengan kaburnya kami dari rumah om A****. Nenek mengatakan bahwa mama meng-guna2i kami (padahal tidak), bapak sudah tidak perduli dengan kami jadi dia fine2 saja kami pergi dari rumah om A****. Nenek tetap ngotot untuk mengambil kami kembali, saya tahu kenapa nenek ngotot karena di rumah nenek (di Barru) kamilah yang mengurus rumah tangga mulai dari cuci pakaian, ngepel dan semuanya. Kami memang kembali ke rumah om A**** dan sudah bisa di tebak kami di pukuli habis2an dan dipulangkan ke Barru tetapi tetap saja kami bisa kabur dan kembali ke rumah oma. Saat itu mama juga ikut suaminya pindah ke Sumbawa jadi kami hanya punya tempat kabur ke rumah oma. Selalu ada kekuatan yg membuat kami kabur dan selalu ada orang yang menolong kami dalam perjalanan kabur itu. Karena seringnya kami kabur, nenek sudah bosan mengejar kami dan akhirnya membiarkan kami. Opa mengurus surat2 sekolah kami dan memindahkan kami ke Makassar. Di Makassar kami di asuh oleh oma dan opa (mereka sudah almarhum). Selama di rumah oma kami mendapat perlakuan yang berbeda dengan sewaktu kami di rumah nenek dan itu berlangsung setiap hari seperti apa yang mereka tunjukkan sewaktu kami awal2 menginap d rmh oma dan opa. Saat di asuh oleh oma dan opa saya tidak di paksa untuk beralih kepercayaan. Saat saya lulus SD, SMP dan SMA pun saya tetap muslim namun yang saya ingat adalah 'om' yg menolong kami pada saat kabur pertama kali.. Dia datang lagi pada saat saya kecelakaan tahun Agustus 1998 (semester awal saya kuliah) di desa Tajur (perbatasan Puncak-Cianjur), saat itu saya bersama rombongan naik motor dan motor saya di salib oleh bus dan membuat saya tergelincir jatuh, saat jatuh itulah kepala saya menghantam batu besar dipinggir jalan dan membuat kepala saya pecah dan harus di jahit 14 jahitan. Kata dokter yg menangani saya saya koma 3 hari tetapi 3 hari itu adalah perjalanan spiritual saya tetapi saya mengalami hal yang lain, saya bertemu dengan 'om' yg dulu menolong saya... 

Rekan-rekan, saya melanjutkan cerita saya berdasarkan pengalaman saya pribadi. Saya tidak mengarang atau mereka-reka atau sekedar mencoba untuk
ber-taqqiya karena saya bukan penganut islam lagi (walaupun dulu saya islam). Saya berterima kasih dengan komentar dan tanggapan teman-teman sekalian saya tidak menyangka akan mendapat sambutan dari rekan sekalian. Tujuan saya menulis di forum ini adalah untuk mencurahkan segala unek2 saya, seraya berharap mungkin ada teman2 pembaca yang ragu dan bimbang untuk melepaskan diri dari islam dan membaca tulisan saya mereka menjadi memiliki kekuatan untuk keluar dari islam. Saya akan melanjutkan tulisan saya dan selanjutnya saya akan menjawab satu persatu pertanyaan teman2. Oh iya, maafkan saya agak terlambat melanjutkan karena tanggal 9 nov yg lalu saya tugas ke daerah pedalaman (****) dalam rangka tugas kantor.

Saya lulus SD dengan peringkat terbaik, kemudian melanjutkan SMP di SMP Negeri di Makassar. Saya kelas 2 SMP saya harus pindah ke rumah om M**** dan tante P**** karena oma dan opa harus pindah ke Bitung Sulawesi Utara (melanjutkan hari tua disana), kedua adik saya di bawa serta kesana. Om M**** adalah keluarga jauh (sepupu 2x mama). Saya tinggal di Makassar karena waktu itu ada perlombaan cerdas cermat dan tidak bisa ditinggalkan. Rencananya nanti setelah saya mengikuti lomba saya akan ikut dipindahkan ke Bitung tetapi kenyataannya karena prestasi yg baik saya tidak jadi pindah bahkan mengikuti perlombaan2 lainnya (semacam olimpiade matematika saat ini). Kelas 3 SMP saya tetap di asuh oleh om M**** dan tante P****, mereka baik kepada saya, mereka tidak punya anak dan memperlakukan saya seperti anak sendiri, saya tidak pernah disuruh-suruh seperti saat saya masih di rumah nenek atau di rumah om A***, saya malah diberikan sepeda BMX dan itulah yang saya gunakan untuk bersekolah. Saya juga bekerja paruh waktu dengan meloper koran, saya saat itu masih sholat (kadang2) kalau di ajak teman disekolah atau kalau ada safari ramadhan di sekolah atau juga kalau ada tugas dari guru agama (soalnya kalau ga sholat pasti di pukuli oleh guru agama atau nilai agamanya di kasih merah). Om M**** ga pernah protes kalau tiba2 saya diajak teman2 pergi maghrib berjamaah kebetulan dekat rumah om M**** ada masjid. Sebenarnya saya tidak mau tetapi ga enak dengan teman2 yg mengajak, saya ingat teman2 saya waktu itu selalu mengatakan kalau kita ga sholat maka kita akan terkena azab dan siksa dari auloh baik di dunia terlebih di akherat. Semua pasti takut bahkan ada teman sekelas saya chinese sampai jadi islam karena takut dengan ancaman itu. 

Oh iya, konflik sara pada waktu itu di makassar gampang sekali terjadi. Kalau ada perang antar geng yg jadi sasaran pasti toko2 kelontong milik teman2 saya yang chinese padahal mereka sudah menutup warungnya karena takut jadi sasaran pelemparan batu tetapi tetap aja kena lemparan batu dan tidak ada sanksi pidana bagi mereka yang melakukan pelemparan, walalupun ada polisi tetapi polisi tidak bisa ngapa2in, nanti kalau mereka sudah puas saling melempar atau jika sudah ada yg terluka parah atau mati barulah mereka berhenti berantem. Sambil mereka berantem mereka selalu teriak auloh huakbar, kadang saya bertanya dalam hati bukankah mereka datang dari suku yang sama dan agama yang sama? mereka hanya terpisah gang tetapi saling perang batu dan busur namun yang jadi sasaran adalah orang2 minoritas, selalu begitu, ada2 aja masalah yang menjadi pemicu keributan atau perang antar geng misalnya hanya karena kalah dalam pertandingan sepakbola atau karena senggol2an dalam hiburan pas 17 agustusan dan yang paling sering adalah karena tersinggung karena kata-kata yang tidak pantas (ditegur tetapi tidak mau diterima tegurannya malah menjadi dendam).

Selepas SMP saya melanjutkan ke SMA di Bitung, karena om M**** harus mutasi ke Soroako, Opa menjemput saya ke Makassar dan saya pindah ke Bitung. Saya SMA di Bitung satu sekolah dengan anak ketua MA sekarang (sampai saat ini saya masih berhubungan baik dengannya karena there is story behind me and her  :D/ sayang papa-nya galak, hahahahahaha.....). Saat SMA inilah saya banyak berpikir tentang ke-islaman saya. Selama saya SMA saya tidak pernah sholat sama sekali. Di rumah tidak di wajibkan karena saya ikut tinggal di rumah oma. Oma dan opa juga tidak pernah melarang saya sholat namun juga tidak pernah menyuruh saya sholat. Ke dua adik saya malah sudah aktif di gereja, mereka yang selalu katakan ayo kak ikut kami ke gereja (oma selalu marah kalau mereka mengajak ke gereja karena menurut oma kepercayaan tidak perlu di paksa2 nanti akan muncul dengan sendirinya). Saya selalu mengeraskan hati, saya sadar sepenuhnya lingkungan saya berubah. Di sekolah setiap pelajaran agama saya mengikuti (agama islam) tetapi ketika teman2 muslim sholat saya tidak ikut, teman saya sesama muslim mengingatkan saya akan bahaya azab dan neraka (persis sama seperti teman saya F**** saat SMP mengingatkan saya) tetapi saya diam saja. Pada hari Jumat disekolah kami itu ada persekutuan doa setiap jumat saya dengar mereka beribadah mereka selalu berbicara tentang kasih, mengampuni, menolong dan menghargai sesama. Hal yang berbeda dulu tiap kali dengar khotbah jumat yang di katakan selalu tentang azab, siksaan api neraka, mengutuki, hindari berteman dengan yg tidak seiman dan banyak lagi... Oh iya, saya teringat satu hal bahwa saat itu di sekolah saya banyak teman kelas saya yang perempuan hamil oleh teman2 sekolah (kakak kelas) yang justru beragama islam, kalau mau di nikahi teman2 kelas saya itu harus mau jadi islam. Saya juga berulang kali di injili oleh teman2 yg Nasrani bahkan saya sempat mengetahui mereka membagi tiap2 teman yg muslim dengan golongan liberal dan ekstrimis. Mereka mengkategorikan saya sebagai islam liberal (saat itu) karena saya terbuka dengan mereka, namun saya tetap pada pendirian saya untuk tetap muslim (lebih tepatnya congkak) mungkin karena sejak dulu di tekankan dan di tanamkan oleh nenek dan keluarga dari bapak sekali muslim tetap muslim atau proud to be moslem (something like that lah...). Guru2 saya juga tidak pernah menekan saya untuk berpaling kepercayaan, walau mereka non muslim mereka tetap menghargai saya. Saya ingat adalah pertemananku dengan anak ketua ma sekarang (waktu itu beliau adalah ketua pn bitung) kami sama2 muslim, awalnya kami berteman baik tetapi setelah mengetahui keluargaku non maka kami harus menjaga jarak (saat itu) dalam berteman. Sekarang setelah kami bertemu lagi (setelah sekian lama berpisah) kami bisa mentertawakan masa lalu... hahahaha....

Saya melanjutkan kuliah di Jakarta, saat itu saya mengajukan pilihan pertama UMPTN di Jakarta, kedua di Bandung dan ketiga Manado, gagal lolos di Jakarta dan Bandung saya lolos UMPTN di Unsrat Manado tetapi karena posisi saya sudah di Jakarta jadi saya (setelah diskusi dengan oma dan keluarga) saya meneruskan kuliah di PTS di Depok. Di Jakarta inilah saya bertemu (kembali) dengan bapak saya. Dia tinggal di Tanjung Priok dengan istri ke empatnya. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana dia susah payah menghidupi keluarganya. Di satu sisi saya kasihan dengan dia tetapi mengingat bagaimana dia menelantarkan kami, mengingat bagaiamana dia tidak perduli dengan kami, mengingat bagaimana kami harus berjuang menenteng-nenteng tas di tengah malam... Saat itu saya benci sekali dengan dia, kenapa saya bisa bertemu dengan dia? Sepupu mama saya yang rumahnya saya tinggali (tante J****) pernah menggunakan jasa bapak sebagai driver lepas (secara tidak sengaja bertemu) dan bila ada acara2 tertentu tante J**** selalu menggunakan jasa bapak. Suami tante J**** adalah seorang pendeta (tadinya adalah seorang preman yang bertobat menjadi pendeta, dia orang Jawa), dialah yang meminta saya untuk bertemu dengan bapak, saya sebenarnya sangat tidak ingin bertemu. Kata om U**** waktu itu adalah tidak baik hidup dalam amarah dan mendendam, karena kalau kita mendendam kita ga akan memiliki kerajaan Sorga, saya tidak mengerti apa yang dia maksudkan saat itu, yg ku pikirkan om U**** hanya mau saya ketemu bapak, sudah lama saya tidak bertemu bapak dan saya (setiap bertemu keluarga) sudah tidak menganggap dia bapak lagi, itulah sebabnya mungkin om U**** memaksa saya untuk bertemu bapak supaya ada rekonsiliasi diantara kami. Tetapi, pada saat saya bertemu bapak, saya malah senang karena merasa dendam saya terbalaskan. Melihat hidupnya yang berantakan dan susah payah rasanya senang sekali. Bukankah dia menelantarkan kami? Membiarkan kami tinggal sama nenek di Barru sementara dia senang2 dengan perempuan lain? Dia mengejar2 kami saat kami bersama-sama mama tapi dia mengembalikan kami ke nenek dan dia pergi begitu saja, rasanya pengen memukul wajahnya tetapi melihatnya hidup dalam kesusahan saja sudah cukup. Pada saat pertama kali bertemu dirumah kontrakannya di tanjung Priok dia mau peluk saya dia bilang : "A**** anakku..." cuih... ga harap aku di aku anak oleh dia (saat itu aku berpikir demikian), saya menghindar saat dia mau peluk. Saat saya menghindar om U**** menatapku dan karena aku gak enak hati maka aku membiarkan dipeluk oleh bapak saat dia mencoba memelukku untuk yg kedua kalinya. I hate him so much... Dia tanya apakah aku masih sholat aku bilang tidak lagi, sdh 3 tahun ga sholat, dia tanya apakah aku masih islam aku hanya mengangguk (saat dia tanya begitu om U**** dan tante J**** sudah di mobil, saya di tanyain bapak saat berjalan menuju ke mobil) saya ingat pesan bapak waktu itu : pokoknya kamu kuliah aja, hati2 dengan mereka jangan mau kalo di ajak ke gereja, gak apa2 walau ga sholat tapi tetap islam... Dalam hati ku bilang kalau aku mau jadi Kristen sudah dari 3 tahun lalu ****, aku tetap islam bukan karena kamu karena aku pikir waktu itu di Indonesia mayoritas islam dan islam itu agama yg dari auloh, karena islam itu rahmatan lil alaamin membawa kebaikan bagi semua orang (waktu itu aku berpikir begitu :vom:)

Pertobatanku terjadi saat aku berlibur bersama teman-teman kompleks rumah om dan tante di puncak pass Agustus 1998. Saat itu kami liburan di puncak dan setelah dari puncak kami akan melanjutkan ke Bandung, kebetulan saat itu saya naik motor, sebuah bus menyalip motor yang saya tumpangi dan kemudian tergelincir saya jatuh dan menghantam batu besar dan saya tidak ingat apa2 lagi... Saat itu dunia saya gelap, hitam, otak saya masih jalan tapi saya pun tidak bisa melihat diri saya sendiri. Saya tidak merasakan sakit, saya pikir saya buta... Ya saya pikir saya buta kenapa begitu? saya ingat kejadian terakhir saat terjatuh dan buuk dan kemudian gelap... (saya tahu kepala saya menghantam batu karena diceritakan oleh teman, masih kata teman saya telapak tangan saya terkena pecahan beling/kaca sekitar 2 senti dari urat nadi saya, sampai sekarang masih ada bekas lukanya) Saya berpikir saya sedang berjalan dalam kegelapan, saya juga berpikir saya sudah mati karena saya bersuara, teriak tapi tidak ada yang menyahut saya tidak merasakan apapun juga... gelap, hitam bahkan langkah kaki saya tidak rasakan. Desperate..., pasti saya takut mati, saya takut sendirian, saya teriak2 tapi tidak mendengar suaraku sendiri, kenapa saya tahu saya teriak? karena otakku berpikir dan hal pertama yang aku ingin ketahui adalah kenapa duniaku hitam? dimana orang2 lainnya? kenapa saya buta? kenapa saya tidak mendengar suara yang ku keluarkan? saat suaraku tidak ada yg sahuti saya sadar saya sendirian, saya menangis meraung-raung minta tolong... Lalu saya berkata : Tuhan Tolonglah aku... Lalu muncullah terang... awalnya setitik lalu titik itu mendatangi aku dan makin lama makin terang dan silau lalu muncullah Dia, dia sama persis seperti siluet yg muncul saat polisi korban WTC seperti yg ada di film WTC. aku ingat Dia... Dia yg menolong kami malam itu... kenapa saya ingat? saya ingat wajahNya... Wajah yang sama seperti di lukisan yang ada mahkota durinya tapi yang mendatangi aku lebih natural dari apa yang di gambarkan orang... WajahNya innocent, lemah lembut bukan tipikal pemarah. Awalnya saya tidak bisa melihat terang itu tetapi setelah terang memenuhi tempatku (aku sendiri ga tau tempat apa itu) aku bisa lihat siluetNya dan wajahNya (seperti lihat matahari yg terang ada warna oranye di tengahnya), aku ingat Dia Isa Al Masih yg di sembah-sembah teman2ku dulu pas SMA, aku lihat dan mendengar dia berkata : "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku..." aku ketakutan dengar itu seperti sedang duduk di depan hakim lalu Dia bilang : "jangan takut... kembalilah dan ikutlah Aku..." seketika itu aku terjaga dan merasakan tubuhku ada di rumah sakit didalam ruang ICU, dingin, kepalaku di perban dan telapak tanganku juga di perban... Aku ga merasakan sakit... Dokter juga heran, bekas lukanya masih ada, aku ditanyain banyak hal tapi aku diam... Aku minta pulang saat itu dan dalam perjalanan pulang aku ingat2 kejadian tadi... Di rumah aku berdiam diri, aku bertanya-tanya siapa om itu? Lalu aku belajar, cari tahu... Aku tanya om U****... ternyata om U**** dulunya adalah seorang muslim, dialah yang banyak memberi tahu bahwa Isa Rohullah wal Kalimatullah (waktu itu saya diberitahu oleh om U****)... Aku tidak serta merta menerima Isa Al Masih, tapi aku belajar. Dulu aku menerima secara bulat islam adalah rahmatan lil alaamin, tetapi sekarang aku punya pembanding... Oktober 1998 tepatnya 31 Oktober 1998 saya menyerahkan hidup saya pada Kristus Yesus/Isa Al Masih... Saya di baptis dan mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat karena Dia yg selamatkan aku dari kematian...

Inilah kisah saya teman2... Setelah saya jadi pengikut Kristus bukan berarti saya terbebas dari masalah masih banyak masalah yg datang diantaranya bagaimana saya mengampuni bapak kandung saya... Luar biasa Tuhan mengubahkan hati saya, mengampuni bapak, nenek dan keluarga besar saya... Ketika bapak saya tahu saya berubah kepercayaan dia marah besar dan bahkan tidak mau melihat saya tetapi saya tetap mengasihinya dan membantu dia menyekolahkan adik (lain ibu) saya. Waktu itu Tuhan memberkati saya (saya bekerja sebagai sales agen asuransi pada semester 3 sampai selesai), saya punya pekerjaan sendiri dan saya ikut membantu menyekolahkan adik2 saya. Akhirnya bapak mulai menerima saya, saya menceritakan kisah saya kepadanya dan dia mengatakan bahwa saya memperoleh hidayah... Saya tidak bermaksud mengajak dia pada kepercayaan saya saat saya menceritakan pengalaman saya saya hanya curhat sebagai anak pada bapaknya. Saya pikir2 dulu saya sangat membencinya tetapi kenapa saya sangat mengasihinya? Saya kasihan lihat adik2 (beda ibu) saya dan saya merasa beruntung terhadap hidup saya, karena Tuhan baik pada saya... Adik2 kandung saya saat ini yg nomor 2 (perempuan) sarjana ***** dan bekerja di *****, menikah dengan orang Surabaya, adik saya yg cowok sarjana ***** dan bekerja *****, saya sendiri sarjana ***** dan bekerja di ****** di republik ini...

Pernikahan saya dengan istri saya juga mempunyai cerita dan tantangan yang luar biasa. Istri saya orang Betawi-Sunda sarjana **** dari universitas di Jakarta, seorang murtadin juga. Beralih kepercayaan tahun 2007, 6 bulan sebelum kami menikah, dia di injili teman kantornya (orang Batak), saya gak pernah mengajak atau menginjili dia tetapi keluarganya menuduh saya yg injili dan paksa dia murtad. Saya di pukuli kakaknya waktu itu tetapi saya tidak membalas tetapi mendoakan mereka... Sekarang, rumah tangga kakak2 istri saya yang memukuli saya dulu hancur berantakan (kakak2nya ga punya anak sudah menikah 8 dan 7 tahun lamanya), mereka bercerai, sementara saya Tuhan mengaruniai kami seorang putra yang pintar dan ganteng sekarang berumur 4 tahun (kami menikah Sept 07) kami menamainya ****. Saya ingat, salah satu hal yang membuat saya memutuskan menikahi istri saya adalah karena saya melihatnya dalam mimpi, kami menikah. Perjuangan istri saya juga luar biasa, dia anak perempuan satu2nya dari 5 bersaudara. Saat memutuskan murtad dia harus di asingkan hingga ke pedalaman pandeglang kemudian dia harus di jambak2 dan kami tidak berkomunikasi selama 4 bulan. Di dunia yang semodern tahun 2007 istriku tidak boleh pegang hp, tidak boleh bersentuhan dengan internet, kemana-mana harus di temani (sekembalinya dari pengasingan dari Pandeglang) tetapi Tuhan itu baik, entah mengapa saya bisa bertemu istri saya di tempat yang tidak pernah kami datangi. Ceritanya panjang... Lain waktu saya akan cerita lagi... Apa yang saya mau tekankan disini adalah Tuhan itu adalah Tuhan yg mengetahui bahasa universal... Dia mengetahui kita manusia yang lemah dan rapuh terhadap dosa itulah sebabnya Dia datang dan menjadi pendamai atas dosa-dosa kita, Dia tidak menuntut kita atas pahala karena pahala dan perbuatan baik tidak bernilai dihadapan Tuhan karena Tuhanlah yang empunya kebaikan. Kalau kita merasa berpahala dan lebih baik dari orang lain maka bukankah kita telah berdosa terhadap Tuhan? karena telah membandingkan diri kita dengan orang lain. Jika kita merasa kita bisa ke sorga karena pahala dan kebaikan itu sama saja dengan kita menyuap Tuhan dengan nilai... Itu sama saja dengan kita membayar tiket ke sorga dengan kebaikan dan pahala kita... Semoga menjadi berkat buat kita semua... God Bless we all...

Keterangan dari Abdullah:
Untuk alasan keamanan, nama2 asli disamarkan semua. Tahu aja sendiri gimana sikap pengikut 'agama damai' pada murtadin. M. saya tidak ingin nanti keluarga saya menjadi sasaran mereka karena kesaksian ini, jangan tinggalkan Tuhan Yesus. DIA benar-benar ada saudara ku ! saya bersaksi karena Tuhan Yesus !


Semangat murtadin

Setelah hilir mudik selama 10 bulan di forum ini, membaca, belajar dan melihat-lihat argumen saudara-saudara sekalian saya merasa
terpanggil untuk menceritakan bagaimana saya dahulu dan sekarang. Saya sebenarnya bingung hendak mulai dari mana tetapi saya merasa ada dorongan yang kuat dari dalam hati saya untuk mulai menceritakan bagaimana kehidupan saya dulu dan sekarang.

Usman Abdullah itu adalah trah keluarga, saya berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Kakek saya orang Makassar, nenek saya orang Bugis. Saya bersyukur ada di angkatan ini, angkatan tahun 80an sehingga memungkinkan saya mengerti internet. Bapak saya ****** usman menikah dengan mama saya (orang Minahasa), awalnya mereka menikah di gereja tetapi setelah saya dan adik saya (perempuan) lahir (saya dan adik saya hanya berjarak satu satu tahun) bapak saya meminta mama saya untuk masuk islam bila tidak maka mama saya akan diceraikan (saya mengetahui kemudian pada usia 16 tahun, saya mengetahui dari adik bapak saya). Mama saya dengan terpaksa masuk islam dan kemudian bercerai setelah adik saya (nomor 3) lahir. Mama saya bercerai karena bapak saya kedapatan ber 2 di kamar teman (sahabat) mama, kata bapak mereka sudah menikah secara siri. Kenyataan yang buruk buat saya yang waktu itu berumur 5 tahun. Pengadilan memutuskan saya dan 2 orang adik saya di asuh oleh mama saya tetapi bapak membawa kami pergi ke rumah nenek di kampung (Kab. Barru) sampai usia 8 tahun kami tinggal bersama-sama nenek sementara bapak kawin lagi bahkan kawin hingga punya 4 orang istri, mama juga menikah lagi dan tinggal bersama suaminya.

Saya dan 2 orang adik saya di didik secara Islam, kami diajar sholat 5 waktu, kalau tidak sholat atau mengaji maka kami harus siap2 menghadapi rotan dari nenek. Kami dilarang untuk bergaul dengan keluarga dari mama karena mereka adalah orang kafir, mereka pasti masuk neraka (kata nenek), nenek yang mengasuh kami waktu itu, nenek adalah istri pertama kakek (kakek mempunyai 3 orang istri).

Saya ingat bila adik saya (perempuan) tidak mau mengaji maka adik saya pasti akan di pukul rotan, di pukul hingga badannya ada bekas pukul dan berwarna biru. Saya sedih lihat adik saya, sedih juga karena saya bapak tidak pernah menengok kami. Sedih juga karena wajah saya dan adik saya mirip orang cina dan teman2 saya mengejek saya dengan mengatakan saya keturunan cina. Usia 9 tahun kami bertemu dengan mama dan keluarganya (saat itu kami ada di Makassar, berlebaran), kami menangis sejadi-jadinya... Adik saya menceritakan keadaan kami dan pengen tinggal sejenak dengan mama, mama minta supaya kami di ijinkan tinggal 2 hari bersama mama. Setelah perdebatan panjang kami diperbolehkan tinggal 2 hari dengan mama. Rasanya kami merdeka, lepas dan tidak mau kembali ke kampung. 2 hari terasa cepat berlalu, nenek datang menjemput kami namun beberapa saat sebelum nenek datang menjemput oma (mama-nya mama) datang dan mengajak nginap di rumahnya, kami senang sekali dan langsung mengiyakan. Jadi, libur lebaran itu kami tinggal di rumah mama dan oma kami.

Pengalaman tinggal di rumah mama dan oma kami sangat menyenangkan, mama mengajarkan (khususnya ke adik2 saya) tentang mengasihi sesama, kata mama apa dan bagaimana pun kami mama tidak akan melupakan kami dan terus berdoa bagi kami. Mama bilang mau bawa kami tetapi bapak selalu menghalangi dan mengancam akan melaporkan ke polisi. Di rumah mama kami juga diberi kebebasan untuk sholat (begitupun di rumah oma), kami tidak pernah dilarang untuk sholat. Ada yang berbeda antara di rumah nenek dan di rumah oma, di rumah nenek kalo mau makan harus bilang dulu dan biasanya harus diambilkan (ditakar) oleh nenek, dirumah mama atau oma kami boleh makan sesuka kami yang penting kata oma makanannya di habiskan karena ada banyak orang yang membutuhkan makan jadi gak baik kalau makanan di buang2. Hal yang berbeda lainnya adalah pada malam hari di rumah oma ataupun mama pasti semua kumpul di meja makan, makan bersama namun sebelum mereka makan mereka berdoa (waktu di rumah mama yang pimpin doa adalah bapak tiri kami) bersama dan yang memimpin doa adalah opa. Karena saya tidak mengerti jadi saya hanya diam aja sementara opa memimpin dalam doa, didalam doa yang diucapkan opa itu doa menggunakan bahasa Indonesia yang saya juga bisa dengar beda dengan doa saya selama ini. Di dalam doa itu saya dengar nama saya juga di sebut, bukan hanya nama saya tetapi nama adik2 saya dan bahkan nama bapak saya juga di sebut. Saya merasa kagum dan takjub karena selama ini nenek mengajari kami untuk tidak perlu mendoakan mama dan keluarga besarnya karena mereka kafir dan pasti masuk neraka.

Kami makan selayaknya keluarga, saya dan adik2 saya diberi tempat duduk persis di samping opa (masih ada 2 orang adik mama yang tinggal dengan oma dan opa waktu itu karena mereka blm menikah dan masih kuliah), hal berbeda bila kami makan malam di rumah nenek, biasanya setelah makanan diberi kami disuruh duduk di lantai atau disuruh makan di dapur. Pengalaman tinggal bersama mama dan oma membekas di hati kami, saat mama melepas kami kembali ke nenek mama bilang akan sering2 berkunjung ke kampung di Barru. Saat mama pergi kami menangis, kami mengangis supaya kami tidak ditinggal.

Setelah mama pergi karena adik saya yg nomor 3 (usia 6 tahun) masih menangis nenek mengambil rotan dan memukul adik saya, adik saya yg perempuan juga menangis dan juga dipukuli supaya mereka berhenti menangis, saya sampai harus melindungi adik2 saya dari pukulan rotan itu. Kebetulan saat itu ada ustad dirumah (sedang berkunjung karena masih suasana lebaran) dan ustad itu mengatakan : "mungkin anak2 ini di baca2i supaya ingat terus ke mama-nya" jadi ustad itu mulai merapal bacaan dan dengan bacaaannya kami ditenangkan. Saya meminta adik saya diam, waktu itu kami tenang bukan karena bacaan tetapi karena takut dengan rotannya nenek. Di kamar (kebetulan kamar yang kami tempati berada di lantai 2) saya menenangkan adik2 saya. Adik saya yang nomor 2 (usianya 8 tahun waktu itu) terus merengek minta ketemu mama lagi. Entah kenapa kok dari dalam hati saya ada keinginan untuk kabur dari rumah itu.

Saya kemudian menghapal kembali jalan untuk ke rumah mama tetapi sulit yang saya ingat malah jalan ke rumah oma (rumah nenek di jl. cendrawasih dkt stadion mattoangin sementara rumah oma di perumnas antang). Lalu saya mulai mengendap-endap ke dapur dan mencari tas plastik untuk memasukkan baju2 kami, saya mewanti-wanti adik2 saya untuk tidak tidur supaya kit bisa pergi tengah malam, kami berpura-pura tidur saat om A**** (yg punya rumah) menengok kami dan memastikan kami sudah tidur dan mematikan lampu kamar. Tepat pukul 11.30 malam saya lihat sekeliling dan gelap, saya bangunkan adik2 saya dan mengendap-endap keluar kamar. Kami menggunakan pohon mangga yang ada di samping balkon kamar turun ke halaman samping dan manjat pagar dan kemudian kami pergi tanpa sepeser pun uang tadinya kami di berikan uang oleh om edy (adiknya mama), oma dan juga mama tetapi uang itu di ambil oleh nenek sesaat setelah mama pergi.

Saya menuntun adik2 saya dan juga membawa tas kresek isi pakaian kami. Kami menumpang mobil angkutan kota yg kebetulan lewat saya ingat saat itu kami berhenti di pasar sentral. Sampai di pasar sentral tengah malam saya hanya menuntun adik2 saya menuju ke lapangan karebosi saya ingat sekali jalannya karena itulah rute yang tadi kami lewati waktu mama mengantarkan kami kembali kerumah om A****, sebenarnya kami saya hanya mau cari tempat buat tidur dulu kasian adik2 saya yang mengantuk namun karena semangat mau kabur jadi mereka tetap terjaga. Belum sampai kami di lapangan karebosi tiba-tiba ada mobil berhenti (pick up), kami kaget karena kami kira itu mobil om A****, kami takut tertangkap dan di bawa pulang kembali tetapi ternyata 'orang itu' memakai baju panjang dan berambut panjang diurai keluar dan bertanya kami mau kemana tengah malam begini? Saya katakan mau ke antang lalu dia bilang nanti saya antar kalian, saya langsung mau karena waktu itu kami butuh tumpangan dan ga tau kenapa kok saya percaya saja pada orang itu. Di dalam mobil (kami duduk didepan samping 'orang itu') kami tidak banyak bicara, saya hanya bilang mau ke perumnas antang om, blok 7 (saya ingat karena dirumah oma ada tulisan nomor dan blok-nya dan saya hapal).

Saya berusaha menahan kantuk supaya tidak tertidur tetapi saya ikut tertidur bersama adik2 saya. Ketika saya terbangun saya sudah ada persis didepan rumah oma. Om yang mengantar kami membangunkan saya dan karena kaget saya langsung bangunkan adik2 saya dan saya berterima kasih pada 'om' yang mengantar saya. 'Om' itu pergi begitu saja meninggalkan kami, karena senang sekali kami tiba di rumah oma saya sudah tidak memperhatikan om yang tadi mengantarkan kami. Om Edy yang bukakan kami pintu dan terkejut melihat kami, oma dan opa juga kaget melihat kami. Saya tahu dalam pikiran mereka mungkin akan mengembalikan kami ke nenek, tetapi tidak lama kemudian oma bilang 'sekarang yg penting bagaimana mereka tidur dulu, soal besok biar nanti kita hadapi' kami akhirnya kembali bermalam di rumah oma. Itulah pengalaman saya pergi dari rumah nenek ke rumah oma.

Singkat cerita, nenek menyalahkan mama dengan kaburnya kami dari rumah om A****. Nenek mengatakan bahwa mama meng-guna2i kami (padahal tidak), bapak sudah tidak perduli dengan kami jadi dia fine2 saja kami pergi dari rumah om A****. Nenek tetap ngotot untuk mengambil kami kembali, saya tahu kenapa nenek ngotot karena di rumah nenek (di Barru) kamilah yang mengurus rumah tangga mulai dari cuci pakaian, ngepel dan semuanya. Kami memang kembali ke rumah om A**** dan sudah bisa di tebak kami di pukuli habis2an dan dipulangkan ke Barru tetapi tetap saja kami bisa kabur dan kembali ke rumah oma. Saat itu mama juga ikut suaminya pindah ke Sumbawa jadi kami hanya punya tempat kabur ke rumah oma. Selalu ada kekuatan yg membuat kami kabur dan selalu ada orang yang menolong kami dalam perjalanan kabur itu. Karena seringnya kami kabur, nenek sudah bosan mengejar kami dan akhirnya membiarkan kami. Opa mengurus surat2 sekolah kami dan memindahkan kami ke Makassar. Di Makassar kami di asuh oleh oma dan opa (mereka sudah almarhum). Selama di rumah oma kami mendapat perlakuan yang berbeda dengan sewaktu kami di rumah nenek dan itu berlangsung setiap hari seperti apa yang mereka tunjukkan sewaktu kami awal2 menginap d rmh oma dan opa. Saat di asuh oleh oma dan opa saya tidak di paksa untuk beralih kepercayaan. Saat saya lulus SD, SMP dan SMA pun saya tetap muslim namun yang saya ingat adalah 'om' yg menolong kami pada saat kabur pertama kali.. Dia datang lagi pada saat saya kecelakaan tahun Agustus 1998 (semester awal saya kuliah) di desa Tajur (perbatasan Puncak-Cianjur), saat itu saya bersama rombongan naik motor dan motor saya di salib oleh bus dan membuat saya tergelincir jatuh, saat jatuh itulah kepala saya menghantam batu besar dipinggir jalan dan membuat kepala saya pecah dan harus di jahit 14 jahitan. Kata dokter yg menangani saya saya koma 3 hari tetapi 3 hari itu adalah perjalanan spiritual saya tetapi saya mengalami hal yang lain, saya bertemu dengan 'om' yg dulu menolong saya...

Rekan-rekan, saya melanjutkan cerita saya berdasarkan pengalaman saya pribadi. Saya tidak mengarang atau mereka-reka atau sekedar mencoba untuk
ber-taqqiya karena saya bukan penganut islam lagi (walaupun dulu saya islam). Saya berterima kasih dengan komentar dan tanggapan teman-teman sekalian saya tidak menyangka akan mendapat sambutan dari rekan sekalian. Tujuan saya menulis di forum ini adalah untuk mencurahkan segala unek2 saya, seraya berharap mungkin ada teman2 pembaca yang ragu dan bimbang untuk melepaskan diri dari islam dan membaca tulisan saya mereka menjadi memiliki kekuatan untuk keluar dari islam. Saya akan melanjutkan tulisan saya dan selanjutnya saya akan menjawab satu persatu pertanyaan teman2. Oh iya, maafkan saya agak terlambat melanjutkan karena tanggal 9 nov yg lalu saya tugas ke daerah pedalaman (****) dalam rangka tugas kantor.

Saya lulus SD dengan peringkat terbaik, kemudian melanjutkan SMP di SMP Negeri di Makassar. Saya kelas 2 SMP saya harus pindah ke rumah om M**** dan tante P**** karena oma dan opa harus pindah ke Bitung Sulawesi Utara (melanjutkan hari tua disana), kedua adik saya di bawa serta kesana. Om M**** adalah keluarga jauh (sepupu 2x mama). Saya tinggal di Makassar karena waktu itu ada perlombaan cerdas cermat dan tidak bisa ditinggalkan. Rencananya nanti setelah saya mengikuti lomba saya akan ikut dipindahkan ke Bitung tetapi kenyataannya karena prestasi yg baik saya tidak jadi pindah bahkan mengikuti perlombaan2 lainnya (semacam olimpiade matematika saat ini). Kelas 3 SMP saya tetap di asuh oleh om M**** dan tante P****, mereka baik kepada saya, mereka tidak punya anak dan memperlakukan saya seperti anak sendiri, saya tidak pernah disuruh-suruh seperti saat saya masih di rumah nenek atau di rumah om A***, saya malah diberikan sepeda BMX dan itulah yang saya gunakan untuk bersekolah. Saya juga bekerja paruh waktu dengan meloper koran, saya saat itu masih sholat (kadang2) kalau di ajak teman disekolah atau kalau ada safari ramadhan di sekolah atau juga kalau ada tugas dari guru agama (soalnya kalau ga sholat pasti di pukuli oleh guru agama atau nilai agamanya di kasih merah). Om M**** ga pernah protes kalau tiba2 saya diajak teman2 pergi maghrib berjamaah kebetulan dekat rumah om M**** ada masjid. Sebenarnya saya tidak mau tetapi ga enak dengan teman2 yg mengajak, saya ingat teman2 saya waktu itu selalu mengatakan kalau kita ga sholat maka kita akan terkena azab dan siksa dari auloh baik di dunia terlebih di akherat. Semua pasti takut bahkan ada teman sekelas saya chinese sampai jadi islam karena takut dengan ancaman itu.

Oh iya, konflik sara pada waktu itu di makassar gampang sekali terjadi. Kalau ada perang antar geng yg jadi sasaran pasti toko2 kelontong milik teman2 saya yang chinese padahal mereka sudah menutup warungnya karena takut jadi sasaran pelemparan batu tetapi tetap aja kena lemparan batu dan tidak ada sanksi pidana bagi mereka yang melakukan pelemparan, walalupun ada polisi tetapi polisi tidak bisa ngapa2in, nanti kalau mereka sudah puas saling melempar atau jika sudah ada yg terluka parah atau mati barulah mereka berhenti berantem. Sambil mereka berantem mereka selalu teriak auloh huakbar, kadang saya bertanya dalam hati bukankah mereka datang dari suku yang sama dan agama yang sama? mereka hanya terpisah gang tetapi saling perang batu dan busur namun yang jadi sasaran adalah orang2 minoritas, selalu begitu, ada2 aja masalah yang menjadi pemicu keributan atau perang antar geng misalnya hanya karena kalah dalam pertandingan sepakbola atau karena senggol2an dalam hiburan pas 17 agustusan dan yang paling sering adalah karena tersinggung karena kata-kata yang tidak pantas (ditegur tetapi tidak mau diterima tegurannya malah menjadi dendam).

Selepas SMP saya melanjutkan ke SMA di Bitung, karena om M**** harus mutasi ke Soroako, Opa menjemput saya ke Makassar dan saya pindah ke Bitung. Saya SMA di Bitung satu sekolah dengan anak ketua MA sekarang (sampai saat ini saya masih berhubungan baik dengannya karena there is story behind me and her :D/ sayang papa-nya galak, hahahahahaha.....). Saat SMA inilah saya banyak berpikir tentang ke-islaman saya. Selama saya SMA saya tidak pernah sholat sama sekali. Di rumah tidak di wajibkan karena saya ikut tinggal di rumah oma. Oma dan opa juga tidak pernah melarang saya sholat namun juga tidak pernah menyuruh saya sholat. Ke dua adik saya malah sudah aktif di gereja, mereka yang selalu katakan ayo kak ikut kami ke gereja (oma selalu marah kalau mereka mengajak ke gereja karena menurut oma kepercayaan tidak perlu di paksa2 nanti akan muncul dengan sendirinya). Saya selalu mengeraskan hati, saya sadar sepenuhnya lingkungan saya berubah. Di sekolah setiap pelajaran agama saya mengikuti (agama islam) tetapi ketika teman2 muslim sholat saya tidak ikut, teman saya sesama muslim mengingatkan saya akan bahaya azab dan neraka (persis sama seperti teman saya F**** saat SMP mengingatkan saya) tetapi saya diam saja. Pada hari Jumat disekolah kami itu ada persekutuan doa setiap jumat saya dengar mereka beribadah mereka selalu berbicara tentang kasih, mengampuni, menolong dan menghargai sesama. Hal yang berbeda dulu tiap kali dengar khotbah jumat yang di katakan selalu tentang azab, siksaan api neraka, mengutuki, hindari berteman dengan yg tidak seiman dan banyak lagi... Oh iya, saya teringat satu hal bahwa saat itu di sekolah saya banyak teman kelas saya yang perempuan hamil oleh teman2 sekolah (kakak kelas) yang justru beragama islam, kalau mau di nikahi teman2 kelas saya itu harus mau jadi islam. Saya juga berulang kali di injili oleh teman2 yg Nasrani bahkan saya sempat mengetahui mereka membagi tiap2 teman yg muslim dengan golongan liberal dan ekstrimis. Mereka mengkategorikan saya sebagai islam liberal (saat itu) karena saya terbuka dengan mereka, namun saya tetap pada pendirian saya untuk tetap muslim (lebih tepatnya congkak) mungkin karena sejak dulu di tekankan dan di tanamkan oleh nenek dan keluarga dari bapak sekali muslim tetap muslim atau proud to be moslem (something like that lah...). Guru2 saya juga tidak pernah menekan saya untuk berpaling kepercayaan, walau mereka non muslim mereka tetap menghargai saya. Saya ingat adalah pertemananku dengan anak ketua ma sekarang (waktu itu beliau adalah ketua pn bitung) kami sama2 muslim, awalnya kami berteman baik tetapi setelah mengetahui keluargaku non maka kami harus menjaga jarak (saat itu) dalam berteman. Sekarang setelah kami bertemu lagi (setelah sekian lama berpisah) kami bisa mentertawakan masa lalu... hahahaha....

Saya melanjutkan kuliah di Jakarta, saat itu saya mengajukan pilihan pertama UMPTN di Jakarta, kedua di Bandung dan ketiga Manado, gagal lolos di Jakarta dan Bandung saya lolos UMPTN di Unsrat Manado tetapi karena posisi saya sudah di Jakarta jadi saya (setelah diskusi dengan oma dan keluarga) saya meneruskan kuliah di PTS di Depok. Di Jakarta inilah saya bertemu (kembali) dengan bapak saya. Dia tinggal di Tanjung Priok dengan istri ke empatnya. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana dia susah payah menghidupi keluarganya. Di satu sisi saya kasihan dengan dia tetapi mengingat bagaimana dia menelantarkan kami, mengingat bagaiamana dia tidak perduli dengan kami, mengingat bagaimana kami harus berjuang menenteng-nenteng tas di tengah malam... Saat itu saya benci sekali dengan dia, kenapa saya bisa bertemu dengan dia? Sepupu mama saya yang rumahnya saya tinggali (tante J****) pernah menggunakan jasa bapak sebagai driver lepas (secara tidak sengaja bertemu) dan bila ada acara2 tertentu tante J**** selalu menggunakan jasa bapak. Suami tante J**** adalah seorang pendeta (tadinya adalah seorang preman yang bertobat menjadi pendeta, dia orang Jawa), dialah yang meminta saya untuk bertemu dengan bapak, saya sebenarnya sangat tidak ingin bertemu. Kata om U**** waktu itu adalah tidak baik hidup dalam amarah dan mendendam, karena kalau kita mendendam kita ga akan memiliki kerajaan Sorga, saya tidak mengerti apa yang dia maksudkan saat itu, yg ku pikirkan om U**** hanya mau saya ketemu bapak, sudah lama saya tidak bertemu bapak dan saya (setiap bertemu keluarga) sudah tidak menganggap dia bapak lagi, itulah sebabnya mungkin om U**** memaksa saya untuk bertemu bapak supaya ada rekonsiliasi diantara kami. Tetapi, pada saat saya bertemu bapak, saya malah senang karena merasa dendam saya terbalaskan. Melihat hidupnya yang berantakan dan susah payah rasanya senang sekali. Bukankah dia menelantarkan kami? Membiarkan kami tinggal sama nenek di Barru sementara dia senang2 dengan perempuan lain? Dia mengejar2 kami saat kami bersama-sama mama tapi dia mengembalikan kami ke nenek dan dia pergi begitu saja, rasanya pengen memukul wajahnya tetapi melihatnya hidup dalam kesusahan saja sudah cukup. Pada saat pertama kali bertemu dirumah kontrakannya di tanjung Priok dia mau peluk saya dia bilang : "A**** anakku..." cuih... ga harap aku di aku anak oleh dia (saat itu aku berpikir demikian), saya menghindar saat dia mau peluk. Saat saya menghindar om U**** menatapku dan karena aku gak enak hati maka aku membiarkan dipeluk oleh bapak saat dia mencoba memelukku untuk yg kedua kalinya. I hate him so much... Dia tanya apakah aku masih sholat aku bilang tidak lagi, sdh 3 tahun ga sholat, dia tanya apakah aku masih islam aku hanya mengangguk (saat dia tanya begitu om U**** dan tante J**** sudah di mobil, saya di tanyain bapak saat berjalan menuju ke mobil) saya ingat pesan bapak waktu itu : pokoknya kamu kuliah aja, hati2 dengan mereka jangan mau kalo di ajak ke gereja, gak apa2 walau ga sholat tapi tetap islam... Dalam hati ku bilang kalau aku mau jadi Kristen sudah dari 3 tahun lalu ****, aku tetap islam bukan karena kamu karena aku pikir waktu itu di Indonesia mayoritas islam dan islam itu agama yg dari auloh, karena islam itu rahmatan lil alaamin membawa kebaikan bagi semua orang (waktu itu aku berpikir begitu :vom:)

Pertobatanku terjadi saat aku berlibur bersama teman-teman kompleks rumah om dan tante di puncak pass Agustus 1998. Saat itu kami liburan di puncak dan setelah dari puncak kami akan melanjutkan ke Bandung, kebetulan saat itu saya naik motor, sebuah bus menyalip motor yang saya tumpangi dan kemudian tergelincir saya jatuh dan menghantam batu besar dan saya tidak ingat apa2 lagi... Saat itu dunia saya gelap, hitam, otak saya masih jalan tapi saya pun tidak bisa melihat diri saya sendiri. Saya tidak merasakan sakit, saya pikir saya buta... Ya saya pikir saya buta kenapa begitu? saya ingat kejadian terakhir saat terjatuh dan buuk dan kemudian gelap... (saya tahu kepala saya menghantam batu karena diceritakan oleh teman, masih kata teman saya telapak tangan saya terkena pecahan beling/kaca sekitar 2 senti dari urat nadi saya, sampai sekarang masih ada bekas lukanya) Saya berpikir saya sedang berjalan dalam kegelapan, saya juga berpikir saya sudah mati karena saya bersuara, teriak tapi tidak ada yang menyahut saya tidak merasakan apapun juga... gelap, hitam bahkan langkah kaki saya tidak rasakan. Desperate..., pasti saya takut mati, saya takut sendirian, saya teriak2 tapi tidak mendengar suaraku sendiri, kenapa saya tahu saya teriak? karena otakku berpikir dan hal pertama yang aku ingin ketahui adalah kenapa duniaku hitam? dimana orang2 lainnya? kenapa saya buta? kenapa saya tidak mendengar suara yang ku keluarkan? saat suaraku tidak ada yg sahuti saya sadar saya sendirian, saya menangis meraung-raung minta tolong... Lalu saya berkata : Tuhan Tolonglah aku... Lalu muncullah terang... awalnya setitik lalu titik itu mendatangi aku dan makin lama makin terang dan silau lalu muncullah Dia, dia sama persis seperti siluet yg muncul saat polisi korban WTC seperti yg ada di film WTC. aku ingat Dia... Dia yg menolong kami malam itu... kenapa saya ingat? saya ingat wajahNya... Wajah yang sama seperti di lukisan yang ada mahkota durinya tapi yang mendatangi aku lebih natural dari apa yang di gambarkan orang... WajahNya innocent, lemah lembut bukan tipikal pemarah. Awalnya saya tidak bisa melihat terang itu tetapi setelah terang memenuhi tempatku (aku sendiri ga tau tempat apa itu) aku bisa lihat siluetNya dan wajahNya (seperti lihat matahari yg terang ada warna oranye di tengahnya), aku ingat Dia Isa Al Masih yg di sembah-sembah teman2ku dulu pas SMA, aku lihat dan mendengar dia berkata : "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku..." aku ketakutan dengar itu seperti sedang duduk di depan hakim lalu Dia bilang : "jangan takut... kembalilah dan ikutlah Aku..." seketika itu aku terjaga dan merasakan tubuhku ada di rumah sakit didalam ruang ICU, dingin, kepalaku di perban dan telapak tanganku juga di perban... Aku ga merasakan sakit... Dokter juga heran, bekas lukanya masih ada, aku ditanyain banyak hal tapi aku diam... Aku minta pulang saat itu dan dalam perjalanan pulang aku ingat2 kejadian tadi... Di rumah aku berdiam diri, aku bertanya-tanya siapa om itu? Lalu aku belajar, cari tahu... Aku tanya om U****... ternyata om U**** dulunya adalah seorang muslim, dialah yang banyak memberi tahu bahwa Isa Rohullah wal Kalimatullah (waktu itu saya diberitahu oleh om U****)... Aku tidak serta merta menerima Isa Al Masih, tapi aku belajar. Dulu aku menerima secara bulat islam adalah rahmatan lil alaamin, tetapi sekarang aku punya pembanding... Oktober 1998 tepatnya 31 Oktober 1998 saya menyerahkan hidup saya pada Kristus Yesus/Isa Al Masih... Saya di baptis dan mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat karena Dia yg selamatkan aku dari kematian...

Inilah kisah saya teman2... Setelah saya jadi pengikut Kristus bukan berarti saya terbebas dari masalah masih banyak masalah yg datang diantaranya bagaimana saya mengampuni bapak kandung saya... Luar biasa Tuhan mengubahkan hati saya, mengampuni bapak, nenek dan keluarga besar saya... Ketika bapak saya tahu saya berubah kepercayaan dia marah besar dan bahkan tidak mau melihat saya tetapi saya tetap mengasihinya dan membantu dia menyekolahkan adik (lain ibu) saya. Waktu itu Tuhan memberkati saya (saya bekerja sebagai sales agen asuransi pada semester 3 sampai selesai), saya punya pekerjaan sendiri dan saya ikut membantu menyekolahkan adik2 saya. Akhirnya bapak mulai menerima saya, saya menceritakan kisah saya kepadanya dan dia mengatakan bahwa saya memperoleh hidayah... Saya tidak bermaksud mengajak dia pada kepercayaan saya saat saya menceritakan pengalaman saya saya hanya curhat sebagai anak pada bapaknya. Saya pikir2 dulu saya sangat membencinya tetapi kenapa saya sangat mengasihinya? Saya kasihan lihat adik2 (beda ibu) saya dan saya merasa beruntung terhadap hidup saya, karena Tuhan baik pada saya... Adik2 kandung saya saat ini yg nomor 2 (perempuan) sarjana ***** dan bekerja di *****, menikah dengan orang Surabaya, adik saya yg cowok sarjana ***** dan bekerja *****, saya sendiri sarjana ***** dan bekerja di ****** di republik ini...

Pernikahan saya dengan istri saya juga mempunyai cerita dan tantangan yang luar biasa. Istri saya orang Betawi-Sunda sarjana **** dari universitas di Jakarta, seorang murtadin juga. Beralih kepercayaan tahun 2007, 6 bulan sebelum kami menikah, dia di injili teman kantornya (orang Batak), saya gak pernah mengajak atau menginjili dia tetapi keluarganya menuduh saya yg injili dan paksa dia murtad. Saya di pukuli kakaknya waktu itu tetapi saya tidak membalas tetapi mendoakan mereka... Sekarang, rumah tangga kakak2 istri saya yang memukuli saya dulu hancur berantakan (kakak2nya ga punya anak sudah menikah 8 dan 7 tahun lamanya), mereka bercerai, sementara saya Tuhan mengaruniai kami seorang putra yang pintar dan ganteng sekarang berumur 4 tahun (kami menikah Sept 07) kami menamainya ****. Saya ingat, salah satu hal yang membuat saya memutuskan menikahi istri saya adalah karena saya melihatnya dalam mimpi, kami menikah. Perjuangan istri saya juga luar biasa, dia anak perempuan satu2nya dari 5 bersaudara. Saat memutuskan murtad dia harus di asingkan hingga ke pedalaman pandeglang kemudian dia harus di jambak2 dan kami tidak berkomunikasi selama 4 bulan. Di dunia yang semodern tahun 2007 istriku tidak boleh pegang hp, tidak boleh bersentuhan dengan internet, kemana-mana harus di temani (sekembalinya dari pengasingan dari Pandeglang) tetapi Tuhan itu baik, entah mengapa saya bisa bertemu istri saya di tempat yang tidak pernah kami datangi. Ceritanya panjang... Lain waktu saya akan cerita lagi... Apa yang saya mau tekankan disini adalah Tuhan itu adalah Tuhan yg mengetahui bahasa universal... Dia mengetahui kita manusia yang lemah dan rapuh terhadap dosa itulah sebabnya Dia datang dan menjadi pendamai atas dosa-dosa kita, Dia tidak menuntut kita atas pahala karena pahala dan perbuatan baik tidak bernilai dihadapan Tuhan karena Tuhanlah yang empunya kebaikan. Kalau kita merasa berpahala dan lebih baik dari orang lain maka bukankah kita telah berdosa terhadap Tuhan? karena telah membandingkan diri kita dengan orang lain. Jika kita merasa kita bisa ke sorga karena pahala dan kebaikan itu sama saja dengan kita menyuap Tuhan dengan nilai... Itu sama saja dengan kita membayar tiket ke sorga dengan kebaikan dan pahala kita... Semoga menjadi berkat buat kita semua... God Bless we all...

Keterangan dari Abdullah:
Untuk alasan keamanan, nama2 asli disamarkan semua. Tahu aja sendiri gimana sikap pengikut 'agama damai' pada murtadin. M. saya tidak ingin nanti keluarga saya menjadi sasaran mereka karena kesaksian ini, jangan tinggalkan Tuhan Yesus. DIA benar-benar ada saudara ku ! saya bersaksi karena Tuhan Yesus !
 
Tertanda,
Tio Rendika Yeremia Sitanggang

Kunci Gitar

Tentang Blog Ini

free web site traffic and promotion
Link Blogger Pemula Backlinks Generator GratisBelajar Bisnis Online Untuk Pemula

Entertainment Blogs
Entertainment blogs



free counters